siang itu saya mencoba menghidupkan kembali "gaya saya yang sedang mati" di Jogja ini dengan mengunjungi perpustakaan fakultas psikologi UGM. pada mulanya saya mengganggap ini bukan ide yang terlalu baik. gimana kita bisa menghidupkan gaya ditempat yg bahkan hanya dengan berbisik aja kita udah kena imbas tatapan sinis dari para pembaca serius ? tapi ternyata anggapan ini segera berubah 180 derajat ketika saya menemukan buku tentang gestalt therapy. walaupun bukan termaksud mahasiswa yang rajin dan cemerlang cemerlang bgt, tapi sedikit banyak saya pernah membaca dan masih mengingat beberapa aturan main teori gestalt. singkat saja, saya terpaku pada kata "unfinished business" dan segala bla bla bla.. yang digunakan untuk mengurainya. saya jadi semakin tenggelam kedalam pemikiran-pemikiran Frederick perls mengenai incomplete form dan kawan2nya. sebuah laci lusuh dalam hippocampus saya mulai terbuka dan mengingatkan saya mengenai adanya faktor lain yang sering kita abaikan saat kita melangkah kedepan.
saat jarum pendek jam berhenti di angka 4, saya memilih untuk menyudahi bacaan saya dan bergegas bertemu dengan teman terunik saya, Indri. indri -yang memang telah melanjutkan pembelajaran psikologisampai jenjang s2- mempunyai peran penting sebagai pencetus dan pendorong saya untuk menuliskan tulisan ini. Tuhan memang maha cerdas, maha bijaksana, maha segalanya,,, tanpa terkondisi, tiba-tiba aja si indri ini mengajak saya berdiskusi mengenai psikologi transpersonal, metode pembelajaran di semester pertama s2, johari window dan sejenisnya yang akhirnya mengerucut juga pada pernyataan mengenai "unfinished business".
dia menjelaskan pada saya ttg pengkondisian kelas pada semester awal yang memang difokuskan pada penyelesaian masalah-masalah yg kita miliki. menurut para dosen, kita harus menyelesaikan segala unfinished business yang kita miliki sebelum kita terjun untuk terlibat dan membantu permasalahan orang lain. jadilah hawa semester awal para mahasiswa psikologi dipenuhi dengan melankoli, haru biru dan semacamnya. segala ocehan dan bekal sedikit bacaan yang saya tampung dalam memori saya akhirnya memunculkan pernyataan yang tidak bersifat baru, tetapi memang sering kita abaikan. lagi-lagi masih tentang unfisihed business :)
slama ini -saat berusaha melangkahkan kaki kedepan- kita hanya fokus pada modal apa yang kita punya. kita sering berbicara mengenai kecerdasan, minat, pengalaman, relasi dan segala metode untuk mencapai suatu kesuksesan. dan diantara semua daya upaya itu, kita sering meninggalkan jejak pada tempat yang pernah dipijak dengan urusan-urusan yang blum selesai. kita mungkin menghindari,berlari atau malah benar-benar melupakan dan mengabaikan urusan-urusan tersebut. padahal segala unfinished business ini juga menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya juang kita dalam meraih masa depan.
saat kita memiliki urusan -dalam bentuk apapun- yang blum selesai, maka kita tidak bisa memberikan 100% awareness yang kita miliki untuk permasalahan saat ini. disadari ataupun tidak, secara otomatis ada beberapa bagian dari kesadaran kita yg masih memfokuskan diri pada permasalahan terdahulu yang blum selesai dan masih menyimpan tanda tanya. tentunya ini akan sangat mempengaruhi kinerja dan segala usaha kita untuk meraih suatu kesuksesan. tanpa kita sadari, kita tidak pernah benar2 maksimal dalam menghadapi langkah didepan karena mengkhawatirkan akan apa yg ada dibelakang.
inilah fakta yang sering kita abaikan. hanya dalam beberapa jam, saya jadi banyak merenung mengenai kebenaran dari teori ini. apapun istilahnya dan bagaimanapun segala faham mencoba menjabarkannya, segala urusan yang blum selesai sangat layak untuk menjadi pertimbangan saat kita melangkah kedepan.
sudah waktunya kita memperhatikan dan memastikan bahwa jejak yang kita tinggal tidak memiliki awalan "un" sehingga kata yang terangkai hanya : finished business
Tidak ada komentar:
Posting Komentar